Jerat-Jerat Maksiat

by | Monday, May 16, 2016




Dosa itu ibarat noda. Noda tersebut akan mengotori suci dan putihnya hati manusia. Jika seseorang insan sering berbuat maksiat, tidak lekas berobat, tidak segera kembali ke jalan ketaatan, hatinya akan segera hitam memekat. Hati yang sudah menjadi hitam pekat akan sulit menerima nasehat. Baca juga Sunnah Nabi Muhammad SAW pada Waktu Makan

Rasulullah saw pernah bersabda:

"Jika seorang mukmin melakukan suatu dosa maka satu titik hitam akan ditorehkan pada hatinya. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut dan memohon ampun (kepada Allah) maka hatinya akan kembali mengkilap. Jika dia menambah dosanya maka semakin bertambah hitam sehingga memenuhi hati tersebut. (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al Hakim)"

right way wrong way


Lalu, apa saja jerat-jerat maksiat?

Cinta Maksiat

Manakala seseorang suka berbuat maksiat maka akhirnya menjadi kebiasaan baginya. Anggapan bahwa maksiat adalah perbuatan keji pun akan hilang. Ia tidak lagi menganggap jelek sebuah kemaksiatan yang ia kerjakan sekalipun orang lain melihat dan membicarakan dirinya. Inilah yang melemahkan keinginan untuk bertobat. bahkan keinginan tersebut bisa hilang sama sekali. Kalau sudah demikian keadaannya, ia akan mengumbar dosa yang ia kerjakan. Tidak ada lagi rasa malu.. kondisi ini sangat berbahaya. Dosa orang seperti ini tidak dimaafkan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi,

"Seluruh umatku diberi maaf kecuali orang yang melakukan dosasecara terang-terangan. Di antaranya adalah seseorang yang berbuat maksiatkemudian Allah menutup aibnya. Lalu pada keesokan harinya, ia sendiri membuka aib tersebut dengan mengumbarnya kepada orang lain, wahai fulan, pada hari ini dan itu aku telah melakukan (dosa) ini dan itu. Maka dia merusak kehormatan dirinya padahal sebelumnya Rabb-nya telah menutup aibnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)"


Dosa Sebab Kehinaan

Dosa menyebabkan pelakunya terhina dihadapan Rabb-nya. Harga dirinya pun jatuh dihadapan manusia. Imam Hasan al-Bashri berkata, "kalau saja mereka mau memuliakan dan mengagungkan Allah pasti Dia akan menjaga mereka. Jika seorang hamba telah hina dihadapan Allah, maka tidak ada yang bisa memuliakannya."

"Allah berfirman (artinya), Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak ada yang bisa memuliakannya. (QS. Al-Hajj : 18)

Walaupun kelihatannya, orang-orang menghormatinya, maka karena mereka sedang membutuhkan orang tersebut, atau karena takut terhadap kejelekannya. Kenyataannya, orang tersebut adalah orang yang paling hina di hati mereka. Oleh karena itu sebagian ulama salaf berdoa, "Ya Allah muliakanlah diriku dengan ketaatan kepada-Mu dan janganlah engkau hinakan diriku karena kemaksiatan kepada-Mu."



Meremehkan Dosa

Bahaya dosa berikutnya adalah menganggap remeh dosa. Jika seseorang terus bergelimang dosa, maka dia akan menganggap remeh dan menganggap kecil dosa tersebut di dalam hatinya. Ini pertanda kebinasaan dan kehancuran. Sebab, jika dosa sudah dianggap kecil di mata seorang hamba maka sebaliknya dosa tersebut semakin besar disisi Allah. Rasul bersabda:

"Sesungguhnya seorang mukmin itu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia berada disebuah gunung. Ia khawatir kalau gunung tersebut akan runtuh menimpa dirinya. Sebaliknya seorang pendosa melihat berbagai dosanya ibarat seekor lalat yang hinggap dihidungnya. Maka ia mengusirnya (dengan tangannya), kemudian lalat tersebut terbang. (HR. al-Bukhari dan Muslim)"



Dosa Pembawa Celaka

Dosa yang dikerjakan seorang hamba akan mencelakakan makhluk lain. Binatang pun akan merasakan kesialan dari dosa yang dilakukan hamba tadi. Akhirnya, segenap makhluk melaknat si pelaku maksiat. Abu Huraira berkata, "Seekor burung Hubara bisa mati dalam sarangnya gara-gara kezaliman orang yang berbuat zalim."

Mujahid berkata, "Sesungguhnya binatang-binatang melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam, yaitu jika musim kemarau berkepanjangan dan tidak turun hujan."


Hati Menjadi Mati

Abdullah bin Mubarok berkata, "Aku memandang dosa itu mematikan hati. Terus berbuat dosa dan menjadikan hina. Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati. Lebih baik bagimu, meninggalkan dosa."


Menghalangi dan Menghilangkan Ilmu

Ingatkah keluhan Imam Asy-SyafiI kepada gurunya? Asy-SyafiI berujar, "Kepada Waki kukeluhkan jeleknya hafaalan. Lalu beliau membimbingku untuk meninggalkan kemaksiatan. Kata beliau, Ketahuilah, bahwa ilmu itu adalah keutamaan. Dan keutamaan Allah tidak akan diberikan kepada pelaku kemaksiatan." Baca juga Alasan Mengapa Umat Islam Menyembah dan Sujud kepada Ka'bah

Kontributor : Deni Apriliandi






Artikel Menarik Lainnya :